Minggu, 15 Maret 2009

Tugas Pengantar Manejemen Bisnis Kelas Akuntansi D IM Telkom 2008-2009

1). Empat tujuan utama penetapan sasaran dalam suatu organisasi :

  1. Penetapan sasaran memberikan arah dan panduan bagi para manajer di semua tingkatan. Jika para manajer mengetahui dengan tepat arah perusahaan, akan sedikit kemungkinan terjadinya kesalahan pada berbagai unit di perusahaan. Contohnya, Stabucks memilliki sasaran meningkatkan pengeluaran modal (capital spending) sampai 15 persen dengan seluruh belanja (expenditure) tambahan dikerahkan untuk membuka toko-toko baru. Sasaran itu dengan jelas memberitahu semua orang di perusahaan tersebut bahwa perluasan ke wilayah baru menjadi prioritas tertinggi perusahan.
  2. Penetapan sasaran membantu perusahaan mengalokasikan sumber dayanya. Bidang-bidang yang diharapkan tumbuh akan mendapatkan prioritas utama. Perusahaan mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke proyek-proyek baru dengan potensi penjualan yang besar alih-alih alokasi sumber daya ke produk yang telah mapan dengan potensi penjualan stagnan. Maka, Starbucks menekankan ekspansi toko baru, sementara inisiatif e-commerce saat ini kurang diprioritaskan. ”Tim manajemen kami,” kata CEO Howard Schultz, ”100% berfokus pada pengembangan bisnis inti kami tanpa adanya gangguan. . . dari inisiatif lainnya”.
  3. Penetapan sasaran membantu membangun budaya perusahaan. Selama bertahun-tahun, General Electric bertujuan mendorong masing-masing divisinya untuk menjadi yang nomor satu atau nomor dua di dalam industrinya. Hasilnya adalah lingkungan dan budaya persaingan (terkadang penuh tekanan) yang menghargai keberhasilan dan memberikan sedikit toleransi terhadap kegagalan. Di sisi lain, pada saat yang bersamaan, bisnis alat-alat rumah tangga, jaringan televisi (NBC), unit mesin pesawat terbang, dan bisnis layanan jasa finansial milik GE menjadi salah satu yang terbaik di industrinya masing-masing. Akhirnya, CEO Jack Welch menetapkan standar yang lebih tinggi lagi agar GE menjadi perusahaan yang paling berharga di dunia.
  4. Penetapan sasaran membantu manajer menilai kinerjanya. Jika suatu unit menetapkan sasaran meningkatkan penjualan mendekati 10% pada tahun tertentu, para manajer di unit tersebut yang mencapai atau melampaui tujuannya akan diberi penghargaan. Unit yang gagal dalam mencapai tujuan tersebut juga akan diperhitungkan. GE memiliki reputasi mengevaluasi dengan ketat kinerja manajerialnya, memberikan banyak penghargaan (bonus) bagi mereka yang melebihi kinerja yang diharapkan, dan membuang mereka yang tidak dapat mencapainya. Setiap tahun 10 persen terbawah angkatan kerja GE diinformasikan bahwa mereka harus membuat perbaikan drastis dalam kinerja mereka atau mempertimbangkan karier lain.

2). Tiga tahap dasar perumusan strategi

1. Menetapkan Sasaran Strategis. Sasaran strategis merupakan sasaran jangka panjang yang langsung berasal dari pernyataan misi perusahaan.

2. Menganalisis Organisasi dan Lingkungannya. Istilah analisis lingkungan mencakup pengamatan dan penilaian lingkungan terhadap segala ancaman dan peluang. Perubahan selera konsumen dan perlawanan usaha pencaplokan oleh perusahaan pesaing merupakan ancaman, seperti juga peraturan pemerintah yang baru. Ancaman yang lebih penting adalah produk dan kompetitor baru. Sementara itu, peluang mencakup bidang-bidang yang berpotensi untuk diperluas, dikembangan, atau dimanfaatkan perusahaan dengan kekuatan yang ada saat ini. Selain analisis lingkungan, yang merupakan analisa faktor-faktor eksternal, para manajer juga harus memeriksa faktor-faktor internal. Tujuan analisis organisasi adalah untuk lebih memahami kekuatan dan kelemahan perusahaan.

3. Menyesuaikan Organisasi dengan Lingkungannya. Langkah terakhir dalam perumusan strategi adalah menyesuaikan ancaman dan peluang dari lingkungan terhadap kekuatan dan kelemahan perusahaan. Proses penyesuaian merupaka jantung dari perumusan strategi. Lebih dari segi-segi strategi apapun, menyesuaikan perusahaan dengan lingkungannya merupakan dasar keberhasilan perencanaan dan pelaksanaan bisnis. Dalam jangka waktu yang lama, proses itu juga menentukan apakah suatu perusahaan biasanya mengambil resiko atau berperilaku lebih konservatif. Kedua strategi itu dapat berhasil.

3). Manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan sumber daya keuangan, manusia, dan informasi suatu perusahaan untuk mencapai tujuan. Masing-masing proses manajemen berhubungan dengan lima keahlian manajemen yang ada, seperti :


a. Perencanaan
Perencanaan merupakan proses manajemen yang mentapkan apa yang harus dilakukan suatu organisasi dan bagaimana sebaiknya melakukannya. Perencanaan atau planning adalah suatu fungsi manajemen yang paling penting, karena disini diformulasikan apa yang akan dikerjakan, siapaa yang mengerjakan, di mana dan caranya, dan bagaimana menilainya. Contohnya pengusaha memutuskan untuk melipatgandakan produksi dalam jangka waktu 3 tahun yang akan datang. Untuk itu akan dibangun 2 pabrik.
Dalam proses ini, top manajerlah yang harus memutuskan berbagai macam hal yang harus dilakukan. Lima keahlian yang ada harus dimiliki oleh seorang top manajer. Hanya yang harus lebih ditekankan adalah pada keterampilan konseptual (conseptual skills).
Keterampilan konseptual merupakan kemampuan untuk melihat perusahaan secara keseluruhan, bagaimana bagian-bagian saling tergantung dan apa yang terjadi bila ada sesuatu yang berubah. Seorang top manajer harus mampu berpikir abstrak, bisa membayangkan, mendiagnosa dan menganalisis setiap situasi yang mungkin berbeda. Ia bisa memikirkan pasar baru yang akan dirintis, menganalisa akibat dari suatu keputusan, dsb.

b. Pengorganisasian
Pengorganisasian merupakan proses maanjemen yang menetapkan cara terbaik dalam mengatur sumber daya dan aktivitas suatu organisasi menjadi suatu struktur yang logis.
Pada proses ini, top manajer memegang peranan penting. Oleh karena itu, keterampilan yang harus dimiliki adalah keahlian konseptual dan keahlian hubungan manusia.

c. Pengarahan
Pengarahan merupakan proses manajemen dalam memandu dan memotivasi karyawan-karyawan untuk mencapai sasaran suatu organisasi. Fungsi ini menyangkut mengintergrasikan berbagai unit yang berbeda. Koordinasi harus ada pada setiap tingkat organisasi.
Oleh karena koordinasi memiliki peran penting dalam proses ini, maka keterampilan hubungan manusia (human relation skills) sangat dibutuhkan. Karena pengarahan adalah proses memandu dan memotivasi, seorang manajer haruslah memiliki keahlian komunikasi yang baik agar dapat mengerti dan dimengerti oleh yang lainnya. Juga agar dapat memelihara hubunganyang baik pada suatu organisasi.

d. Pengawasan
Pengawasan merupakan proses manajemen dalam memonitor kinerja suatu organisasi untuk menjamin bahwa tujuannya dapat tercapai.
Dalam proses pengawasan ini, keterampilan mengelola waktu (time management skills) dibutuhkan. Seorang manajer harus bisa memprediksi pengawasan yang akan dilakukan untuk jangka waktu berapa lama. Selain itu dibutuhkan juga keterampilan membuat keputusan (decision making skills).
Keterampilan membuat keputusan dibutuhkan dalam pengawasan. Jika pada proses pengawasan ada suatu masalah yang dihadapi maka seorang CEO akan menentukan problem, mengumpulkan fakta, mengidentifikasi alternatif penyelesaian, hingga akhirnya mengimplementasikan alternatif penyelesaian yang dipilih juga mengevaluasi efektifitas pilihan tersebut.


4). Manajer tidak hanya ada dalam bidang bisnis saja. Pada bidang pendidikan pun manajemen tetap ada, contonya pada universitas. Sekalipun pada lembaga pendidikan, tingkatan manajer seperti top manager, middle manager dan juga lower manager bisa dijumpai. Hal ini bisa diidentifikasi sebagai berikut.


a. Top manager
Pada institusi pendidikan , yang menjadi top manager adalah Rektor.

b. Middle manager
Pada institusi pendidikan, yang berperan menjadi middle manager yaitu, dekan, direktur progam sarjana, direktur program pasca sarjana, kepala lembaga, kepala unit, dan para kepala bagian di lingkungan unit-unit tersebut.

c. Lower manager
Pada institusi pendidikan, yang menjadi lower manager adalah para dosen, staff, dan karyawan


5). Perusahaan yang keahlian teknis manajemen puncaknya lebih penting daripada keterampilan hubungan manusia atau konseptual yaitu pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa seperti servis atau perbaikan. Pada perusahaan ini, menurut saya keahlian teknis lebih dikedepankan jika dibandingkan dengan keterampilan hubungan manusia atau konseptual karena produk yang dijual oleh perusahaan adalah keahlian teknis seseorang untuk mereparasi barang.

Contoh lainnya bisa ditemukan pada perusahaan tambang. Menurut saya pada perusahaan ini jelaslah keahlian teknis sangat dibutuhkan bila dibandingkan dengan keahlian-keahlian yang lain. Pada perusahaan tambang sudah tentu yang dibutuhkan adalah kemampuan teknis dalam melakukan penambangan.

Menurut saya, tidak ada suatu organisasi yang keahlian konseptualnya tidak penting. Dalam organisasi yang bergerak di bidang apapun, lima keahlian dasar haruslah dimiliki tanpa terkecuali baik itu keahlian teknis, konseptual, hubungan manusia, membuat keputusan juda keahlian mengelola waktu. Lima keahlian ini sangat dibutuhkan oleh semua manajer. Hanya untuk tiap tingkatan manajer, ada keahlian yang lebih ditekankan dibanding yang lainnya. Misalnya pada top manager, keahlian yang lebih ditekankan adalah keahlian konseptuan dan membuat keputusan; pada middle manager lebih ditekankan keahlian hubungan manusia; dan pada low manager lebih menitikberatkan pada keahlian teknis.

Di perusahaan atau organisasi manapun, keahlian konseptual sangatlah penting karena keahlian konseptual merupakan kemampuan untuk berpikir pada hal yang abstrak, mendiagnosis dan menganalisis situasi yang berbeda, serta melihat jauh ke depan. Dengan digunakannya keahlian konseptual, dapat membantu para manajer menganalisis kemungkinan hasil dari keputusan-keputusan. Juga dapat membantu individu mengetahui peluang (dan ancaman) padar yang baru.


6). Antara perusahaan manufaktur berumur 100 tahun di Northeast dan perusahaan e-commerce berumur setahun yang didirikan di Silicon Valley pasti terdapat perbedaan dan salah satunya dapat terlihat pada budaya perusahaan. Budaya korporasi merupakan pengalaman, kisah, keyakinan, dan norma-norma yang mencirikan suatu organisasi.
Faktor-faktor utama yang menentukan budaya korporasi seperti nilai-nilai (values), sejarah, kisah-kisah dan legenda. juga pengalaman bersama pada perusahaan manufaktur berumur 100 tahun di Northeast pasti lebih kuat dan banyak dibandingkan dengan perusahaan e-commerce berumur setahun yang didirikan di Silicon Valley.

Jika dilihat dari waktu berdirinya, jelaslah perusahaan manufaktur di Northeast telah berada jauh sebelum perusahaan e-commerce berdiri. Hal ini membuat perusahaan manufaktur lebih banyak pengalaman terutama dalam menyelesaikan hambatan-hambatan yang muncul. Dengan jam terbang yang sangat lama ini, mereka telah mencoba mengambil berbagai macam keputusan pemecahan masalah serta mengetahui kelemahan dan kelebihan perusahaan sendiri dan juga perusahaan pesaing-pesaingnya. Dengan umurnya yang cukup tua, perusahaan manufaktur tersebut telah mengetahui bagaimana kondisi lingkungan di Northeast dan untuk saat ini cenderung mempertahankan budaya perusahaan yang ada tanpa ada inovasi.

Pada perusahaan e-commerce yang baru berdiri satu tahun ini, belum banyak pengalaman yang berarti. Mereka juga belum mengetahui secara jelas kondisi lingkungan di sekitar Silicon Valley. Budaya yang mereka miliki belum sepenuhnya dapat membantu dan memberikan juga dampak positif karena ditahun pertama mereka masih harus banyak melakukan penyesuaian dengan kondisi budaya di perusahaan-perusahaan sekitar Silicon Valley yang menjadi pesaing bisnisnya. Salah satu kelebihan dari perusahaan e-commerce ini adalah daya saing yang masih besar membuat manajer beserta tim selalu melakukan terobosan-terobosan baru agar bisa selangkah leih maju dari sebelumnya.

Minggu, 18 Januari 2009

Susilo Bambang Yudhoyono's profile

These information about Indonesian President, Susilo Bambang Yudhoyono are written at wikipedia.com

Susilo Bambang Yudhoyono
(born 9 September 1949), is an Indonesian retired military general and the sixth President of Indonesia. Yudhoyono won the presidency in September 2004 in the second round of the Indonesian presidential election, in which he defeated incumbent President Megawati Sukarnoputri. He was sworn into office on October 20, 2004, together with Jusuf Kalla as Vice President.

Javanese do not have surnames in the Western sense.[1] The name Yudhoyono was not inherited either from his father or his mother. While Susilo Bambang uses Yudhoyono in naming his children, it is not an inherited family surname. In Indonesia, he is referred to in some media as Susilo and is widely known by the initial SBY. Abroad, he is referred to as Yudhoyono, a name that he chose for his military name-tag, while in formal meetings and functions he is addressed as Dr. Yudhoyono. Susilo is apparently derived from Susila in Sanskrit which in means 'well-behaved' or perhaps Sushil, which means 'one with good character'.

In his early life

Susilo Bambang Yudhoyono was born in Tremas, a village in Arjosari, Pacitan, East Java, on September 9, 1949, to a lower-middle class family and is the son of Raden Soekotjo and Siti Habibah. [2] Since he was a child, he always wanted to be in the army.[3] His first school was Sekolah Rakyat Gadjahmada (now is SDN Baleharjo I). Yudhoyono developed a reputation as an extremely talented student in addition to being an academic achiever, excelling in writing poems, short stories, and play-acting. Yudhoyono was also talented in music and sport, reflected when he and his friends established a volleyball club called "Klub Rajawali" and a band called "Gaya Teruna".[4] Music became a hobby for Yudhoyono and he often sang one of his favorite songs, "Pelangi di Matamu" during his presidential campaign.[5]

When he was in 5th grade, Yudhoyono visited the National Military Academy (AMN) at Magelang. After seeing the soldiers training there and perhaps inspired by his own father's career, Yudhoyono became determined to join ABRI and become a soldier. Yudhoyono had originally wanted to get into the ABRI Academy (Akabri) after graduating from high school in 1968, however, he missed out because he did not register in time.[3]

Yudhoyono then became a lecturer at the Sepuluh November Institute of Technology (ITS) before entering the Teachers Education School in Malang, East Java. There, he was able to prepare everything for the next phase of his education at Akabri. Yudhoyono officially entered Akabri in 1970 after passing the test which took place in Bandung, West Java.[3]

Road to Presidency

By 2003 there was a gathering momentum behind the possibility of Yudhoyono being a Presidential Candidate.[14] The National Democratic Union Party (PPDK) was the first to bring up the subject of nomination. In September 2003, Yudhoyono's own PD began to make preparations in the case that Yudhoyono was willing to accept a Presidential nomination. PD then initiated a publicity campaign to promote Yudhoyono as a candidate. For his part, Yudhoyono was not responsive both to PPDK or PD's maneuverings to nominate him and continued his duties as Minister. PPDK was disappointed to Yudhoyono's reaction and PD continued to wait for Yudhoyono to resign his position as what was expected of all Presidential candidates apart from the incumbent President and Vice President.

The turning point came on 1st March 2004, when Yudhoyono's secretary, Sudi Silalahi announced to the media that for the last 6 months, Yudhoyono had been excluded from policy decision-making in the field of Politics and Security.[15] On 2 March, Megawati responded that she had never excluded Yudhoyono while her husband, Taufik Kiemas called Yudhoyono childish for complaining to the media instead of the President herself. On 8 March, Yudhoyono sent a letter asking for permission to meet the President about his ministerial authorities. Megawati did not respond when she received the letter, although she invited Yudhoyono along to a Cabinet meeting on 11 March. Yudhoyono did not attend the Cabinet meeting and instead held a press conference at his office and announced his resignation from the position of Coordinating Minister of Politics and Security. Yudhoyono also announced that he is ready to be nominated as President.

Yudhoyono's popularity skyrocketed after his falling out with Megawati as he was seen by the people to be the underdog. However this popularity did not translate to a victory for PD at the 2004 Legislative Elections. There, PD won 7.5% of the votes which was still enough to nominate Yudhoyono as a Presidential candidate. Yudhoyono accepted the nomination and picked Golkar's Jusuf Kalla as his running mate. Aside from PD, their Presidential and Vice Presidential candidacy were also supported by the Crescent Star Party (PBB), Star Reform Party (PBR) and Indonesian Justice and Unity Party (PKPI).[16]

Yudhoyono's manifesto for the future of Indonesia, summarised in a book titled "Vision For Change" written by him and distributed for free during the campaign, was built on four pillars: prosperity, peace, justice and democracy. At the top of his agenda was a plan for increasing economic prosperity, aiming for economic growth of at least 7% and a revival of small and medium-sized enterprises. He also put forward policies to offer better credit lines, to cut red tape, improve labor laws and to root out corruption from the top down. He told an interviewer:

If we are to reduce poverty, create jobs, increase purchasing power and rebuild infrastructure, then we will need new capital. Of course, to be able to invite investment, I have to improve the climate — legal certainties, political stability, law and order, sound tax policies, customs policies, good labor management. I will improve the guarantees to encourage investors to come to Indonesia.

Yudhoyono's perceived reputation for intellectual and communication skills capabilities made him the front-runner throughout the election campaign, according to many opinion polls and the opinions of election commentators,[17] a long way ahead of the other candidates (Megawati, Wiranto, Amien Rais, and Hamzah). On 5 July 2004, Yudhoyono participated in the first round of Presidential Elections coming first with 33% of the votes. However, 50% of votes are required for a new President and Vice President to be elected and this meant Yudhoyono going into a run-off against Megawati.

For the run-off, Yudhoyono faced challenge from Megawati's Indonesian Democratic Party-Struggle (PDI-P), forming a National Coalition with Golkar, PPP, Prosperous Peace Party (PDS) and Indonesian National Party (PNI). Yudhoyono then declared that his coalition, which now received political support from the National Awakening Party (PKB), Prosperous Justice PartyNational Mandate Party (PAN), would be the People's Coalition. (PKS) and the

On 20 September 2004, Yudhoyono participated in the run-off election, winning it with 60.87% of the vote.

Yudhoyono was inaugurated as President on 20 October 2004.